Prisoners: Cinta Ayah dalam Balutan Drama Nan Suram

by Joedi Dance

Prisoners: Cinta Ayah dalam Balutan Drama Nan Suram
EDITOR'S RATING    

Sutradara asal Canada, Dennis Villeneuve menghadirkan sebuah drama thriller yang suram dan depresif; yang dipenuhi oleh akting-akting kelas wahid dari para pemerannya.

Sutaradara : Dennis Villeneuve
Naskah : Aaron Guzikowski
Pemeran : Hugh Jackman, Jack Gyllenhaal, Viola Davis, Maria Bello, Terrence Howard, Melissa Leo, Paul Dano

Film-film bergenre crime thriller selalu menarik untuk disaksikan. Kita seolah diajak masuk berpetualang seperti dalam manga Detective Conan, menebak misteri mengenai sebuah kasus yang terjadi. Lebih asyiknya lagi dari genre ini adalah karena kita bukan hanya sekedar menebak namun kita juga diajak untuk memahami setiap karakter dan motivasi dari karakter tersebut. Adalah hal yang sulit bagi filmmakers untuk bisa konsisten menggiring penonton untuk tetap bisa mengikuti keruwetan misteri yang ada, namun juga tetap bisa merasakan simpati kepada karakternya. Inilah yang berhasil disajikan oleh Villeneuve dalam film terbarunya, Prisoners.

Waktu terasa begitu indah bagi keluarga Dover dan Birch disaat mereka merayakan Thanksgiving Day bersama. Kebahagiaan itu seketika hilang ketika kedua gadis kecil mereka, Anna dan Joy secara misterius menghilang. Panik dan ketakutan, Keller (Jackman) dan Franklin (Howard) mencari ke segala tempat sementara istri-istri mereka, Grace (Davis) dan Holly (Leo) menagis histeris. Polisi kemudian menangkap seorang tersangka, Alex Jones (Dano) namun dikarenakan kurangnya bukti, Alex pun dilepaskan. Sementara Detektif Loki (Gyllenhaal) berusaha mengais-ngais petunjuk, Keller dengan brutal berusaha mencari anaknya, dengan tetap berkeyakinan bahwa Alex mengetahui dimana putrinya berada. Sejauh manakah seseorang akan melakukan apapun demi melindungi keluarganya? Akankah mereka bisa menemukan Anna dan Joy? Siapa sesungguhnya yang bertanggung jawab?

Penulis akui, Prisoners bukanlah film yang menyenangkan untuk ditonton. Bukan dalam artian yang buruk. Dengan durasi lebih dari 2.5 jam serta tone film yang sangat suram dan depresif; Prisoners dengan sangat berhasil menangkap setiap emosi yang ada di dalam alurnya yang linear. Di satu sisi, filmnya sendiri sangat mengerikan, dengan adanya konten yang lumayan mengganggu dan membuat penulis tak bisa bernafas. Namun di sisi lain, penonton merasakan suatu keindahan di balik semuanya. Semua guratan dan permainan emosi yang ditunjukkan begitu mencengangkan, terasa begitu manusiawi. Sesuatu yang justru terkadang membuat Prisoners semakin mengerikan.

Bagi yang menggemari genre ini pasti merasakan adanya sedikit kemiripan dengan Mystic River (2003) atau Gone Baby Gone (2007). Villeneuve seolah mengajak kita masuk ke dalam sebuah labirin yang berliku-liku. Beberapa shot yang menipu, tone kelam dan mencekam, dengan banyak teka-teki yang asyik untuk disimak. Dan ini mungkin membuat beberapa orang lain frustasi karena persis ketika penonton berpikir bahwa jalan keluar sudah ditemukan, namun ternyata kita malah semakin tersesat di dalam labirin ceritanya. Semua prediksi dari jawaban teka-teki seolah mentah. Semuanya mencurigakan. Semuanya memiliki potensi sebagai pintu keluar dari si labirin ini. Dan ketika kita pikir semuanya sudah selesai... Bam! Villeneuve dan Guzikowski seolah menghajar kita dengan sebuah twist yang sangat legit dan tak disangka-sangka.

Kesemua itu masih didukung pula oleh sinematografi dari Roger Deakins yang sangat-sangat moody. Nominator 10 Oscar ini juga ikut mempermainkan emosi penonton melalui tone yang ia hadirkan melalui lenda kameranya. Shot-shot yang ia hadirkan pun sedikit banyak membantu (dan menipu) penonton dalam memecahkan teka-teki yang dihadirkan Villeneuve dan Guzikowski. Dapat dikatakan, dengan nuansa suram dan benar-benar menangkap esensi kisah Prisoners itu sendiri, karya Deakins di film ini merupakan salah satu karya terbaiknya.

Dan seperti yang sudah saya singgung di awal, Prisoners bukan hanya berhasil menggiring penonton dengan misteri kasusnya namun juga dalam balutan emosi yang terjadi di sekitarnya. Dengan setting yang terasa dingin dan menyesak, kita disuguhi berbagai ledakan emosi dari semua karakter yang ada. Ketika kedua keluarga perlahan-lahan hancur dengan caranya masing-masing dalam menerima berita kehilangan anak mereka. Dan sebagai leading actor, Hugh Jackman berhasil mengemban tugasnya.

Kita pernah melihatnya sebagai pria kekar dengan cakar adamantium, kita pernah melihatnya sebagai pesulap ambisius, bernyanyi dengan suara indah di abad pertengahan Prancis, bertinju dengan robot, dan kini kita disuguhi akting brilian Hugh Jackman sebagai seorang ayah yang tidak ingin berhenti mencari putri kecilnya. Semua emosi, dari mulai kehilangan, rasa kegagalan, sampai harapan bercampur menjadi satu. Jackman berhasil menghidupkan sosok Keller yang membuat penonton meringis simpati, dan bahkan gilanya lagi, membuat penonton bisa menerima jalan yang ditempuh Keller dengan sangat masuk akal. Ini sudah bukan masalah benar atau salah, ataupun moralitas seseorang. This is about protecting the most important things in your life.

Pada akhirnya, Prisoners bukan hanya sebuah film yang sekedar menyajikan misteri ala komik detektif. Dengan lihai kita diajak ikut bermain ke dalam sebuah labirin, penuh dengan banyak lorong dan pintu yang memusingkan. Dan sangat sulit untuk keluar. Bagi kalian yang menggemari genre ini, ini adalah karya yang luar biasa. Tapi buat kamu yang membutuhkan film ringan untuk hiburan, hati-hati... bisa jadi kamu malah ikut depresi setelah menontonnya.

Artikel Terkait