Balinale 2015 Menghadirkan Keragaman dan Keunikan Berbagai Bangsa Melalui Film

by dr. kawe


Balinale 2015 Menghadirkan Keragaman dan Keunikan Berbagai Bangsa Melalui Film

Sebagai salah satu festival film bertaraf internasional di Indonesia, Bali International Film Festival atau Balinale baru saja mengakhiri penyelenggaraan di tahun 2015 ini. Di kali kesembilan , festival yang diadakan pada tangga 24-30 September ini, berhasil memutar 105 judul film dari 29 negara. Jumlah ini sendiri sudah disaring panitia dari jumlah awal 300 judul film dari 42 negara. Di tahun ini, Balinale bekerja sama dengan Cinemaxx untuk tiga tahun ke depan dalam memutar film-film mereka. Hadirnya Cinemaxx ini tentu saja memberikan atmosfer baru bagi penyelenggaraan festival internasional yang dihadiri produser dan pembuat film dari berbagai negara. Cinemaxx  juga memungkinkan penyelenggara memutar film berkualitas 2D maupun 3D, mengingat format materi dari peserta ada yang menyertakan keunggulan teknologi ini.

Kerjasama ini turut memberikan hal yang berbeda bagi penyelenggaraan Balinale 2015, yaitu dengan hadirnya Open Air Cinema. Acara menonton film di area terbuka tanpa dipungut biaya ini tentu menjadi sebuah kesempatan yang tidak dilewatkan para pengunjung Lippo Mall Kuta dengan fasilitas audio dan layar yang memanjakan mata dan telinga. Selain Open Air Cinema, Balinale 2015 juga membuat acara meet & greet bersama artis dan pemain film yang hadir di BALINALE 2015.

Gueros karya Alonzo Ruiz Palacios dari Meksiko mendapat kehormatan sebagai film pembuka Balinale 2015 dan juga menghadirkan sang sutradara untuk diajak berbincang seputar filmnya. Sebagai film penutup, terpilih Chemo (Chemia) karya Bartosz Prokopowicz yang berasal dari Polandia. Dengan tema "Face of Diversity", Balinale 2015 menghadirkan berbagai film dengan keragaman dan keunikan masing-masing. Beberapa di antaranya, yaitu karya Anggy Umbara yang diproduksi oleh FAM Pictures dan MVP Pictures, Cakra Buana karya Massimo Burhanuddin berupa film musikal dengan dialog bahasa Sunda, dan Bidadari Terakhir karya Awi Suryadi yang diangkat dari kejadian nyata di kota Balikpapan.

Sebagai penutup, diberikan beberapa penghargaan Audience Choice Awards untuk film-film yang telah diputar. Penghargaan tersebut adalah:

Best Indonesian Feature: About a Woman (2014) - Teddy Soeriaatmadja,

Best Indonesian Short: Indonesia Raja (2015) - Denpasar

Best International Feature: Chemo (2015) - Bartosz Prokopowicz, Polandia

Best International Short: Once Upon a Mine (2015) - Vofka Solovéy, Ukraina

Best Documentary: Frackman (2015) - Richard Todd, Australia

'Face of Diversity'? Award: Cambodian Son (2014) - Masahiro Sugano, Amerika

Best Overall Film:  Me and Earl and the Dying Girl (2015) - Alfonso Gomez-Rejon, Amerika

Artikel Terkait