Ruangan sepi dan sunyi pun ternyata bisa menakutkan
Backrooms diawali dari sebuah postingan di sebuah situs gambar 4chan pada 2019. Ruangan luas ini kemudian berkembang menjadi legenda urban sebuah kompleks ruangan yang sangat besar dan membingungkan. Dari sekadar gambar, Backrooms kemudian berkembang menjadi video game dan film pendek. Youtuber Kane Parsons menghadirkan seri pendek "Backrooms" pertamanya pada 2022 sebanyak 25 video dan langsung menjadi viral. Kini, di tahun 2026, ia diberi kepercayaan oleh A24 untuk membuat versi filmnya.
Seorang penjual furnitur, Clark, merasa hidupnya kacau. Toko mebelnya sepi, ia alkoholik, dan pernikahannya berantakan. Untuk memulihkan kondisinya, Clark menemui terapis Mary yang juga berjuang dengan trauma perusakan rumah masa kecilnya dan ibunya yang agoraphobia (ketakutan berlebihan bahwa lingkungan di sekitarnya tidak aman). Clark, yang memilih tidur di toko mebelnya daripada pulang ke rumah, menyadari bahwa lampu di lantai bawah kerap menyala di malam hari. Penasaran, ia pun menyelidiki dan menemukan "pintu" yang membawanya masuk ke backroom, sebuah ruangan luas yang dipenuhi koridor, sekat, dan mebel-mebel aneh. Penasaran, Clark mulai menyelidiki dan menemukan ada sesuatu di sana yang membuatnya tertarik semakin dalam.
Backrooms jelas bukan film horor kebanyakan. Meski menghadirkan penampakan entitas secara sekilas, tapi penonton tidak hanya ditakut-takuti oleh itu saja. Ruangan dengan kertas dinding kuning kusam, luas, penuh sekat, lampu neon terang, kadang ada sudut gelap, suara-suara asing, tapi sesekali sunyi. Bayangkan jika kita terjebak dalam situasi seperti itu. Tidak tahu harus ke mana, bingung mencari jalan keluar. Keadaan ini sangat terasa horornya dan bisa jadi membuat penonton merasa tidak nyaman.

Manusia cenderung merasa lebih aman saat berada di area yang mereka kenal. Tapi, ketika masuk ke suatu wilayah atau tempat yang sama sekali asing, rasa cemas, takut, dan was-was tentu akan timbul. Apa yang akan terjadi kalau kita belok kiri dan bukan ke kanan? Kalau masuk ke ruangan ini dan bukan ke ruangan itu? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang terasa dalam Backrooms.
Tidak hanya menghadirkan horor psikologis, Backrooms juga seperti penggambaran dari pikiran manusia yang begitu luas. Kadang terisi hal penting, kadang terisi hal absurd, kadang terisi info berguna, kadang terisi info remeh dan aneh. Ada pula penggambaran bentuk manusia yang terdistorsi seakan memperlihatkan bahwa dalam otak manusia yang sudah pernah melihat ribuan orang dalam hidupnya, ingatan terhadap seseorang itu tidak selamanya jelas. Bisa saja apa yang kita lihat saat pertama kali bertemu dulu, perlahan memudar dan akhirnya berubah menjadi ingatan yang berbeda.
Mungkin, bagi yang berharap film ini memberi jawaban apa itu Backrooms, siapa yang membuatnya, bagaimana bisa ada di dunia, akan kecewa. Bukan itu yang ingin disampaikan Kane Parsons, melainkan rasa takut manusia terhadap sebuah tempat asing dan psikologi horor yang mengiringinya. Jadi, bagi kalian yang mau tahu seperti apa horor yang tidak menghadirkan hantu atau jumpscare, melainkan hanya sebuah ruangan sepi, tapi bikin bulu kuduk merinding, tonton Backrooms.
