Dokumenter tidak melulu tentang kesulitan hidup atau tokoh masyarakat. Sheila Timothy dan Jay Subiyakto mengangkat sejarah dalam dokumenter terbaru mereka, Banda: The Dark Forgotten Trail.
Anggapan
bahwa film dokumenter adalah film yang membosankan karena tidak ada alur
cerita, sinematografi dan gerakan kamera yang monoton, serta ketiadaan unsur
musik sebagai pendukung cerita agaknya bisa dipatahkan jika kita menyaksikan Banda: The Dark Forgotten Trail ini.
Jika umumnya kisah dokumenter kebanyakan mengangkat mengenai kisah-kisah kaum
marjinal atau minoritas, kini kita akan diajak menelusuri salah satu pulau di
Indonesia yang dulu pernah tersohor karena hasil rempah-rempahnya hingga
menjadi rebutan berbagai bangsa di Eropa, Banda.
Dinarasikan
oleh suara empuk Reza Rahadian, Banda:
The Dark Forgotten Trail mengisahkan kedigdayaan salah satu pulau di
Indonesia Timur ini akibat hasil Bumi mereka yang melimpah, yaitu rempah-rempah,
terutama sekali pala. Pada zaman penjajahan, pala menjadi rebutan bangsa Eropa,
seperti Spanyol, Portugis, Inggris, hingga Belanda karena rempah-rempah adalah
komoditi yang sangat berharga. Lewat dokumenter ini, kita diajak mengetahui
asal-usul pala, alasan pala menjadi bahan rebutan berbagai negara yang singgah
di Banda, hingga kejatuhannya.
Tidak
sekadar menyorot pala, dokumenter perdana Lifelike Pictures dengan menggandeng
sutradara yang sudah malang-melintang di dunia video klip, Jay Subiyakto, ini
juga menceritakan masyarakat Banda yang terdiri dari berbagai etnis dan suku. Nenek
moyang mereka dibawa secara paksa ke Banda untuk mengelola perkebunan pala
hingga akhirnya menetap dan beranak-pinak di sana. Ada pula kisah mengenai para
pahlawan yang diasingkan ke Banda, seperti Sutan Sjahrir, Mohammad Hatta,
hingga Des Alwi.

Dengan
bantuan Director of Photography Ipung Rachmat Syaiful yang telah memenangkan penghargaan
di Festival Film Indonesia, kamera Jay bergerak secara dinamis. Tidak hanya
sekadar merekam keindahan alam Banda, tetapi juga menangkap momen-momen dan bercerita.
Semua itu turut terbantu dengan tiga editor yang bahu-membahu merangkai gambar
hingga menjadi satu rangkaian yang asyik dilihat, yaitu Aline Jusria, Cundra
Setiabudhi, dan M Syauqi. Musik pun ditangani oleh Satrio Budiono yang menangani
film dokumenter ini layaknya sebuah film fiksi epik. Kadang menghentak di satu
bagian, lalu lembut dan mengalun di bagian lain.
Selama
94 menit, kita disuguhi gambar yang indah dan tidak monoton. Persis seperti
melihat sebuah video klip yang super panjang. Artistik dan menarik karena kita
disuguhi dengan gambar-gambar cepat. Namun sayangnya, Jay seakan lupa bahwa
durasi film dokumenter yang lebih panjang daripada video klip ini akan melelahkan
mata jika terus-menerus disuguhi gambar-gambar cepat tadi. Alhasil, di
pertengahan film, kita sebagai penikmat pun mulai tidak nyaman dengan gaya
sinematografi yang dihadirkan.
Secara
keseluruhan, Banda: The Dark Forgotten
Trail adalah sebuah film dokumenter sayang untuk dilewatkan. Jarang sekali
film dokumenter digarap seserius ini. Keberanian Sheila Timothy untuk
memproduseri film ini memang patut diacungi jempol. Tidak hanya sebagai
hiburan, Banda: The Dark Forgotten Trail bisa
jadi cara baru bagi kita untuk mempelajari sejarah sebuah daerah di Indonesia
Timur yang sempat mengecap masa kejayaannya.
