Mencoba lucu, tapi lucunya bersifat regional.
Masing-masing
genre film tentu punya tantangan tersendiri. Horor ditantang untuk
menakut-nakuti penontonnya secara elegan, tapi tidak terlebihan. Aksi ditantang
jadi tontonan yang seru dan tidak membosankan dari segi intensitas
ketegangannya. Kartun yang kerap dipandang sebelah mata pun ternyata punya
tantangan tersendiri. Bagaimana membuat kisah yang bersifat general dengan
lelucon yang bisa diterima semua kalangan, apa lagi jika karakter yang diangkat
dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tantangan
inilah yang agaknya sukar ditaklukkan oleh The
Emoji Movie. Kisahnya mengingatkan
kita pada saat Lego The Movie rilis. From nobody to somebody. Karakternya
sama, seorang warga kota yang biasa-biasa saja dan ingin dirinya berharga.
Namun, pada saat berusaha mewujudkan hal itu, dirinya malah menimbulkan
serangkaian kekacauan yang berakibat pada petualangannya berusaha memperbaiki
kekacauan tersebut. Salah satu tokoh yang cukup disegani dalam kota ternyata
adalah sosok antagonis yang ingin melenyapkan jagoan utama untuk selamanya.
Terasa
klise memang, tapi toh formula ini masih cukup ampuh diterapkan di layar lebar
terutama film-film kartun yang menyasar berbagai kalangan. Orang tua tidak
perlu sibuk menjelaskan hal-hal yang rumit dan anak-anak bisa menyaksikan
dengan tenang sambil sesekali tertawa melihat tingkah polah karakter utama.

Sayangnya,
meski berbekal materi tersebut The Emoji Movie terasa kedodoran dari segi
penceritaannya. Karakter yang dipilih sebagai tokoh utama pun terasa kurang
menarik. Hi-5 sebagai karakter pendamping
pun luar biasa menyebalkannya dan terlalu cerewet. Jujur saja, kebanyakan
orang Indonesia mungkin jarang menggunakan emoji ‘Meh’ atau Hi-5 di percakapan
mereka. Tidak hanya itu, lelucon yang biasanya jadi sajian utama film-film
sejenis ini malah tidak lucu. Tidak lucu bagi orang dewasa, tapi bisa jadi
kurang dimengerti anak-anak. Beberapa momen memang bisa mengundang tawa, tapi
selebihnya adalah rasa bosan yang menyerang.
Kehadiran
Candy Crush pun terasa seperti tempelan saja karena cepatnya ketiga tokoh utama
“melewati” aplikasi ini. Selain itu, kemunculan Just Dance pun terasa asing.
Sulit memang menghadirkan film dengan berpedoman pada aplikasi-aplikasi yang
terkadang hanya tenar di satu region saja.
Namun, meski mendapat kritik negatif di Amerika, agaknya The Emoji Movie akan bisa berbicara banyak di Indonesia sebagai tontonan ringan di akhir pekan dengan keluarga. Akan tetapi, dengan saingan Annabelle Creation, sanggupkah film yang mendapat rating 1 bintang di IMDB ini bisa berbicara banyak?
