Hanya sekelompok anak muda yang melanggar larangan dan mati (seperti biasa)
Meramal, salah satu kegiatan yang kerap dipandang sebagai pengisi waktu luang. Bagi remaja, membaca ramalan tentang percintaan, karier, dan keuangan memang seru dan tidak jarang hidup mereka pun kadang "disetir" oleh zodiak atau horoskop. Tapi, bagaimana kalau seandainya sebuah ramalan menjadi kenyataan, tapi bukannya kebahagiaan, malah kematian yang datang? Itulah premis yang diangkat dalam film horor terbaru Sony Pictures, Tarot.
Sekelompok remaja menghabiskan akhir pekan, sekaligus merayakan ulang tahun salah satu temannya, dengan menginap di sebuah rumah tua. Karena kehabisan bir, mereka pun memutuskan menggeledah rumah tersebut untuk mencari persediaan alkohol. Bukan minuman yang didapat, mereka malah menemukan sebuah kotak yang berisi kartu tarot tua lukisan tangan. Haley yang memang pandai membaca tarot pun dipaksa teman-temannya untuk meramal mereka satu per satu. Ramalan Haley memang menjadi kenyataan, namun dengan cara yang mengenaskan. Teman-teman yang ia ramal mulai terbunuh. Kini, Haley dan sisanya harus berjuang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dari segi cerita, Tarot bisa dibilang tidak terlalu istimewa. Kisah tentang anak-anak muda yang karena rasa ingin tahunya malah berujung malapetaka sudah sering diangkat di berbagai film horor remaja lainnya. Yang menjadi PR bagi sutradara dan penulis naskah adalah bagaimana mengemas tema klise ini menjadi sajian horor yang berbeda. Untuk itu, dipilihlah tarot sebagai medium seramnya. Dan, itu cukup berhasil. Hantu-hantu yang muncul memiliki penampakan yang mirip dengan versi kartunya dan, harus diakui, tampilannya cukup menyeramkan. Memang, tidak banyak karakter tarot yang diambil, hanya beberapa yang terkenal, seperti The High Priestess, The Magician, The Hermit, The Hanged Man, The Fool, The Devil, dan The Death.

Sayang, hanya itu keunggulan film ini: visualisasi hantu tarot. Sisanya seakan tidak terlalu maksimal. Beberapa jumpscare memang bisa bikin kita kaget, tapi tidak sampai menutup mata. Tidak hanya itu, semua yang disajikan dalam film ini, sudah muncul semua di trailer sehingga tidak ada kejutan lain yang bisa ditawarkan Tarot. Para karakter pun tidak diberi latar belakang yang cukup sehingga, saat mereka menjadi korban ramalan pun, para penonton tidak peduli. Itu semakin diperparah dengan tidak adanya muka familiar di film ini yang bisa menjadi jualan utama. Seakan, siapa pun yang muncul di layar bisa mati kapan saja, mau itu pemeran utama atau pemeran pendukung.
Dengan premis yang sebenarnya menarik, sangat disayangkan bahwa Tarot tidak bisa menjadi film horor remaja yang menawarkan hal segar, seperti Talk To Me. Namun, untuk kalian yang suka film horor dengan penampakan hantu yang lumayan seram (tapi artistik) dan jumpscare, Tarot jelas bisa menjadi pilihan.
