Di setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan
Setelah film pertama Guardians of the Galaxy yang memukau semua orang, Gunn langsung melesat menjadi salah satu sutradara kelas A dalam dunia adaptasi superhero. Namun, setelah film Guardians of the Galaxy Vol. 2 yang tidak begitu sukses, Gunn berpindah ke DC untuk membuat The Suicide Squad yang penuh sumpah-serapah dan adegan gore berlebihan. Film itu flop, tapi pesona Gunn malah memberinya kesempatan membuat serial Peacemaker dan diangkat menjadi Co-Director of DC bersama Peter Safrann.
Perpindahannya ke kubu seberang membuat Gunn harus pamit dari MCU yang membesarkan namanya. Guardians of the Galaxy Vol. 3 adalah surat perpisahan dari Gunn. Untungnya, ia benar-benar fokus dalam menggarap GOTG Vol. 3 ini dan menghasilkan film MCU terbaik di fase pasca Avengers: Endgame. Penuh rasa, warna, dan cerita yang benar-benar padu dan ciamik. Keanekaragaman itu digambarkan dengan perjalanan para anggota penjaga galaksi sepanjang film. Semua dapat tempat dan waktu untuk menonjol, bahkan karakter-karakter kecil sekali pun.

Film ini tentang pendewasaan diri. Semua karakter berkembang dari diri mereka yang terdahulu. Masing-masing mencari jati diri dan menemukan jawabannya walau untuk menemukan itu, ada pengorbanan yang harus dilakukan. GOTG sebenarnya adalah film keluarga, masing-masing anggota adalah pilar dari keluarga. Jika satu terguncang, maka seluruh anggota akan menopangnya. Namun, keluarga juga tidak harus selalu bersama. Akan ada yang pergi dan menemukan tempatnya sendiri. Mereka tumbuh dan berkembang, saling mendukung. Jika sudah begini, maka sisi aksi heroik dan agresi menjadi kedok belaka. Ini film keluarga, bukan superhero.
Pujian patut diberikan pada villain bagian ketiga ini, Chukwudi Iwuji yang menjadi High Evolutionary. Ia bukan saja memiliki motivasi yang jelas, tapi berkat dia juga para Guardian menemukan jalan hidupnya masing-masing. Sayang, tetap saja ia kalah dengan mudah. Di awal-awal, kita justru dikejutkan oleh karakter baru yang sangat jagoan dan mengira jika inilah musuh Guardian. Tapi, ternyata tidak. Adam Warlock yang saat post credit scene GOTG Vol. 2 masih di dalam mesin, ternyata sudah lahir. Karakter yang diperankan oleh Will Poulter ini juga punya arc yang menarik di film ini.

Gunn memang pandai dalam meramu cerita, tapi untuk menjadi sutradara film superhero ia masih harus banyak improvisasi. Dari film pertama hingga yang ketiga, jujur saja, secara visual sama sekali tidak ada peningkatan. Gunn tidak pandai menciptakan superhero moment yang ikonik. Ia mirip Joss Whedon, level adegannya masih belum cinematic. Shoot-shoot yang diambil, pergerakan kamera, angle, semuanya sangat biasa. Film-film besutan Gunn tidak ada yang mampu memberikan efek epik dan grande. Bahkan untuk hal ikonik seperti superhero landing saja tidak ada. Tapi, mungkin karena memang ini film dengan banyak karakter, maka tidak perlu ada hal-hal yang heroik atau keren sendiri bagi karakter tertentu. Semua dicampur dan diaduk hingga sama rata, sama rasa.
Apakah kesuksesan Gunn dalam mengolah cerita perjalanan para penjaga galaksi ini akan bisa diterapkannya di DC? Kita tunggu saja.
