Kadang, imajinasi bisa berbahaya
Blumhouse mungkin bisa dibilang salah satu rumah produksi horor yang cukup produktif. Mengangkat tema yang umum di masyarakat, memakai pemain yang tidak begitu terkenal, dan mengusung bujet kecil, rupanya efektif untuk memberi pemasukan. Meski tidak semuanya box office, tapi sesekali pasti ada sleeper hit yang disukai dan ke depannya bisa jadi akan melahirkan sekuel. Kali ini, Blumhouse mengangkat kisah mengenai 'teman khayalan'. Indonesia sendiri mungkin tidak terlalu akrab dengan istilah ini, padahal di Amerika, ini seakan menjadi "tren" di kalangan anak-anak, terutama yang tidak punya teman bermain atau kerap ditinggal orangtuanya bekerja. Namun, bagaimana jika teman khayalan itu tidak menghilang setelah dewasa, tapi malah menunggu untuk menarik kita kembali ke dunia mereka guna memberi asupan agar mereka semakin kuat? Ingat, ini film yang berbeda dari besutan John Krasinski, IF, meski temanya sama-sama teman khayalan.
Jessica menikah dengan Max, seorang duda berprofesi musisi yang memiliki dua anak perempuan, Taylor dan Alice. Karena rumahnya kosong semenjak sang ayah masuk rumah sakit, Jessica dan keluarga kecilnya pun memutuskan pindah ke sana. Alice yang sedang menjelajah rumah barunya menemukan sebuah boneka beruang bernama Chauncey di rubanah yang segera ia bawa ke mana-mana. Tidak hanya sekadar boneka, Chauncey dan Alice melakukan permainan yang bahkan mengarah ke situasi yang membahayakan. Khawatir dengan kondisi Alice, Jessica pun memanggil psikolog untuk bicara dengan Alice. Namun, tanpa disangka, kedatangan psikolog ini malah membuka rahasia kelam yang selama ini disimpan alam bawah sadar Jessica rapat-rapat.

Jeff Wadlow bisa dibilang sineas langganan Blumhouse. Selain Imaginary, dia juga pernah membuat Truth or Dare (2018) dan Fantasy Island (2020). Keduanya sama-sama menarik dan mencekam. Imaginary sendiri juga memiliki faktor yang sama seperti dua film di atas. Jika selama ini kebanyakan orang menganggap teman khayalan adalah entitas tidak berbahaya yang pelan-pelan menghilang saat kita beranjak dewasa karena terlupakan, di sini, fokus dibelokkan menjadi: bagaimana kalau teman khayalan kita tidak hilang, tapi menunggu kita kembali? Itu semua dihadirkan dalam bentuk penampakan-penampakan di sudut gelap yang buram.
Secara cerita, Imaginary memang tidak menghadirkan kisah yang terlampau rumit. Ada satu twist di tengah yang cukup membuat penonton terkejut dan tidak menyangka. Selebihnya, semua berjalan linear. Sosok teman khayalan yang dihadirkan pun lebih menyerupai monster daripada penampakan hantu-hantu yang mengganggu dan bikin kita terbayang-bayang sebelum tidur. Bagi orang Amerika, ini mungkin sangat menakutkan. Tapi, sekali lagi, mengingat budaya Indonesia jarang mengenal teman khayalan ini, penonton malah lebih menikmati jumpscare atau alur ceritanya ketimbang takut sepanjang film.
Pada akhirnya, imajinasi memang adalah sesuatu yang sangat kuat. Melalui imajinasi, teknologi bisa semaju sekarang, perfilman bisa seramai sekarang, dan bacaan kita bisa sekaya sekarang. Namun, selalu hati-hati saat berimajinasi karena apa yang kita imajinasikan bisa jadi tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Siapa tahu, ada pikiran jahat di luar sana yang memutarbalikkan imajinasi indah kita menjadi sesuatu yang buruk.
