Permainan biasa ini berakhir mematikan dalam film garapan Jeff Wadlow ini. Namun, apakah kengeriannya tersampaikan?
Sebagai rumah
produksi yang mengkhususkan diri dalam produksi film-film horor, Blumhouse Productions bukanlah pemain baru. Beberapa kali menghasilkan karya yang mencetak box office, seperti Insidious dan The Purge:
Anarchy, Blumhouse agaknya cukup percaya diri dalam mencetak hits lainnya. Setelah mengangkat
permainan memanggil roh dalam Ouija (2014),
kini rumah produksi ini kembali mencoba menghadirkan kengerian yang sama
melalui Truth or Dare. Permainan
biasa ini berakhir mematikan dalam film garapan Jeff Wadlow ini. Namun, apakah
kengeriannya yang dibutuhkan tersampaikan?
Kutukan
mengerikan yang tak ada habisnya bukanlah formula baru dalam film karena The Ring sudah melakukannya hampir 20
tahun lalu. Formula ini berhasil saat itu, namun untuk kembali menggunakannya
dalam kemasan berbeda, hal ini tak berhasil dilakukan oleh Blumhouse. Dibintangi
oleh Lucy Hale, Tyler Posey, Violett Beane, Hayden Szeto, dan Landon Liboiron, Truth or Dare menjadi film horor
supernatural dengan jalan cerita yang mudah ditebak.
Sekelompok
mahasiswa mengadakan liburan musim panas terakhir mereka di Meksiko. Di sana, Olivia
(Lucy Hale) bertemu dengan pria misterius yang mengajak mereka menghabiskan
malam di sebuah gereja terbengkalai dan memainkan permainan “Truth or Dare”. Olivia
dan teman-temannya memainkan permainan itu, lalu kembali menjalani kehidupan
mereka seperti biasa sepulang liburan. Namun, mereka tak menyadari bahwa mereka
telah memainkan permainan yang dikutuk karena seluruh pemainnya harus berkata
jujur dan melakukan tantangan yang diminta atau mereka mati.

Sebuah premis
yang cukup menjanjikan ditawarkan. Dalam setiap giliran, ada konsekuensi yang
harus diterima. Hubungan persahabatan Olivia dan Markie (Violett Beane) berantakan.
Selain itu, bahaya mengancam Olivia dan kawan-kawan dalam setiap gilirannya. Namun,
drama percintaan yang menguasai hampir setengah plot film ini merusak suasana.
Film ini pun malah terkesan seperti opera sabun dengan cinta segitiga yang
dibumbui unsur permainan supernatural.
Truth or Dare bahkan sama sekali tidak menakutkan atau pun
mengejutkan dengan scoring dan efek
suaranya. Ini hanyalah drama remaja dewasa yang konfliknya mterlalu klise dan penyelesaiannya
pun mudah ditebak. Tak ada perkembangan karakter yang berarti. Truth or Dare jadi film horor tanggung
yang hanya membuat penonton gemas karena menebak-nebak, “Siapa yang akan mati
selanjutnya?” dan “Bagaimana caranya?” sebagaimana yang pernah dimunculkan
dalam Final Destination
bertahun-tahun lalu. Namun, jika Final Destination
masih bisa memberikan kengerian akan kematian yang mendebarkan, di film ini kematian demi kematian terjadi tanpa
makna, bahkan sadis pun tidak.

Untuk sebuah
film horor keluaran Blumhouse, Truth or
Dare adalah film yang terlalu ringan. Durasi 100 menit jadi terasa cepat
karena konflik yang klise dan formula yang diulang. Film ini punya Olivia,
karakter perempuan pemberani dan cerdas yang bisa menyadari keanehan permainan “Truth
or Dare” mereka dan memberikan sedikit banyak bantuan untuk teman-temannya. Seperti
biasa juga, film ini punya karakter yang tak percaya takhayul yang pada akhirnya
mati mengenaskan.
Meski begitu, untuk
kalian yang lebih suka menikmati film horor tanpa scare jump, Truth or Dare bisa
jadi film yang menyenangkan. Ditambah lagi, di dalamnya ada si charming Tyler Posey yang cukup memberi
warna film ini. Selain itu, perubahan wajah para karakter yang menyeringai
seperti memakai fitur Snapchat juga cukup mengganggu dan bisa bikin mimpi
buruk!
