Lebih panjang, lebih mellow, lebih bosan.
Setelah hampir satu dekade menunggu, akhirnya dunia Mad Max diperluas dengan dibuatnya spin-off Furiosa, karakter kuat yang diperankan Charlize Theron di Mad Max: Fury Road. Ekspektasi tentu saja tinggi mengingat Fury Road penuh dengan aksi gila yang membakar adrenalin saat menontonnya. Dari materi promo yang sudah dirilis oleh WB mengindikasikan kita akan mendapatkan kegilaan yang sama saat menonton Furiosa: A Mad Max Saga. Namun, sayangnya tidak. Furiosa lebih fokus pada drama dan karakter yang lumayan banyak. Mereka bersaing untuk muncul di layar. Hasilnya, film ini kehilangan jati dirinya.
Pertama, hal yang paling fatal dari film ini adalah durasi. Dengan penambahan 20 menit lebih lama dari Fury Road, ternyata Furiosa tidak membawa sesuatu yang baru. Semua aksi di film ini terasa seperti pengulangan dari film sebelumnya. Usaha beberapa adegan aksi yang mencoba untuk terlihat gila malah membuatnya jadi biasa saja. Alhasil, menjelang film berakhir sudah tidak terasa lagi keseruan melihat aksi-aksi di layar. Ending-nya juga malah makin membuat filmnya terasa membosankan. Alih-alih ditutup dengan sesuatu yang seru, film ini malah mengakhirinya dengan dialog yang tidak memberi kepuasan pada penontonnya.

Kedua, terlalu banyak yang ingin diceritakan dalam film ini. George Miller sepertinya memasukkan banyak latar cerita yang tidak sempat ia tunjukkan di Mad Max: Fury Road. Alhasil filmnya terpecah antara fokus pada latar belakang Furiosa dan pada dunia Mad Max yang berisi orang-orang gila. Namun, penceritaan yang tidak efektif membuat penonton bingung ke mana fokus mereka harus diarahkan. Karakter Furiosa jadi tidak mendapat simpati karena kisahnya selalu terpotong dengan kisah yang lain sehingga saat adegan akhir yang harusnya klimaks dan emosional malah tidak terasa apa-apa. Penonton belum terlalu terikat dengan karakternya untuk merasa sedih.
Selain itu, banyak hal yang ikonik dari film pertama yang hilang di Furiosa. Misalnya, aksi War Boys yang gila. Semua orang pasti ingat dengan frase "Witness Me!" dari film Fury Road. Itu adalah ungkapan wajib saat para manusia silver ini ingin melakukan aksi gila yang berujung maut. Di Furiosa, ini jarang sekali diucapkan, salah satu alasannya ya karena aksi gila mereka sangat sedikit. Lalu, kurangnya kendaraan yang nyentrik. Salah satu ciri khas film-film Mad Max adalah kendaraan-kendaraan rongsok yang diubah menjadi mesin tempur mematikan. Di Fury Road, bahkan ada kendaraan yang tugasnya murni sebagai musik pengiring pertempuran, lengkap dengan War Boy yang memainkan gitar api. Sementara, di sini, tidak ada kendaraan yang memorable, kecuali satu. Yang mana? Kalian tonton saja nanti juga paham.

George Miller mencoba membuat Furiosa menjadi lebih besar dan megah daripada Fury Road, namun hasilnya film ini malah terasa lebih kecil dan membosankan. Minim hal baru, tidak eksploratif, dan seperti dibuat tergesa-gesa. Anya Taylor-Joy memang aktris yang berbakat, tapi sepertinya pilihan yang salah untuk menjadi Furiosa muda. Ia tampak kecil dan lemah. Sama sekali tidak mengancam. Chris Hemsworth sebagai Dementus juga kalah ikonik dari Immortan Joe, malah lebih diingat sebagai villain yang bawel dan banyak omong. Sekali rasanya cukup untuk menonton film ini. Walau ada adegan seru, tapi membayangkan harus duduk lagi selama 2.5 jam yang melelahkan? Tidak sanggup.
