Tidak menghadirkan kisah yang terlalu rumit, tapi masih ada twist.
Menyatukan beberapa karakter ikonik dalam satu film
tentunya fan service yang disukai
para pencinta film di seluruh dunia. Avengers, Justice League, hingga The
League of Extraordinary Gentlemen adalah tiga di antaranya. Karena itu, saat
dua film M. Night Shyamalan yang menjadi pembicaraan, yaitu Unbreakble dan Split ternyata berada pada satu semesta yang sama, kontan para
penyuka kisah-kisah misteri (dan yang masih menaruh harapan pada sineas India
ini) bersorak kegirangan. David Dunn, Mr. Glass, dan Kevin Crumb akan dipertemukan
dalam film berjudul Glass. Seperti
apa pertarungan puncak pria kuat, tuan jenius, dan monster ini?
Shyamalan rupanya tidak mau repot-repot mengenalkan
siapa itu David, Glass, dan Kevin. Asumsinya, semua orang sudah tahu kisah
mereka. Karena itu, pace film pun
bisa dibilang berjalan cepat dan sudah mempertemukan David dan The Beast dalam
15 menit pertama. Namun, inti ceritanya tentu bukan di situ, melainkan pertemuan
ketiganya di sebuah rumah sakit jiwa dengan ditangani seorang psikiatris
cantik, Ellie Staple.
Meski beberapa review
yang sudah bertebaran mengungkapkan bahwa Shyamalan kembali tampil lemah di
Glass, namun anggapan itu tidak
sepenuhnya benar. Memang, tidak ada pertarungan puncak penuh efek spesial macam
Avengers melawan Chitauri atau para pejuang DC melawan Steppenwolf, namun
momen-momen menarik yang dihadirkan Shyamalan sanggup membuat kita menahan
napas, tidak sanggup berkedip, bahkan enggan beranjak meski ingin ke toilet.
Dialog yang dihadirkan meski panjang dan sesekali menyisipkan istilah medis
tidak lantas membuat kita bosan. Justru, kita akan semakin tertarik, terutama
dengan keinginan dr. Ellie Staple yang berusaha meyakinkan ketiganya bahwa
mereka hanyalah manusia biasa yang mengalami kasus delusi ekstrim.

Pilihan musik yang mencekam setiap kali sosok The
Beast muncul pun turut menambah tegang suasana. Bukan hanya terasa seperti film
thriller, Shyamalan membuat Glass layaknya film horor yang
disutradarai James Wan. Penonton tidak akan tahu kejutan apa yang akan muncul
di tiap adegan. Akting apik juga ditujukan oleh Bruce Willis, James McAvoy, dan
Samuel L. Jackson. Terakhir, bukan Shyamalan namanya kalau tidak bisa
memberikan twist berlapis yang (sedikit banyak) membuat kita kaget.
Sayangnya, Glass
yang seharusnya memiliki rating R, di Indonesia tayang dengan rating PG-13.
Entah ingin menarik penonton yang lebih muda atau ini ada hubungannya dengan
hak edarnya yang dipegang oleh Walt Disney Pictures Motion Pictures. Meskipun
tidak menonjolkan kekerasan, Glass tetap
menarik untuk ditonton, terutama bagi kita yang sudah menonton Unbreakable dan Split serta mengagumi keduanya.
