Mencoba untuk brutal dan sadis, tetapi bikin ngantuk
Mungkin bosan karena peran yang itu-itu saja dan ingin bermain film laga, tapi tidak ada yang menawari, Dev Patel akhirnya membuat sendiri film laga dengan ia yang menjadi pemain utama sekaligus sutradara. Dengan latar yang unik, yaitu sisi kumuh India, Patel berhasil meyakinkan Jordan Peele untuk mau menjadi produser film ini. Monkey Man berhasil mendapat sambutan meriah saat diputar di festival-festival film. Patel pun dianggap memiliki talenta sebagai sutradara. Monkey Man bahkan disebut-sebut sebagai John Wick versi India. Tentu saat film ini masuk dan tayang reguler, ekspektasi penonton menjadi cukup tinggi.
Di awal film, kita akan dikenalkan dengan karakter Kid (Patel), petarung jalanan ilegal yang tinggal di lingkungan kumuh India. Ternyata, selidik punya selidik, Kid punya misi tertentu yang harus ia tuntaskan. Dari awal hingga pertengahan film, kita akan mendapat banyak sekali adegan menegangkan, seksi, serta koreografi baku hantam yang menarik (serta mirip sekali John Wick). Semua aksi ada di sini, mulai dari copet-mencopet, manipulasi, kejar-kejaran adrenalin tinggi, sampai cewek-cewek seksi yang membuat mata terpaku pada layar. Lalu, layar menghitam dan masuk paruh kedua. Di sinilah, semua kesenangan tadi berakhir.
Dari awal, Monkey Man membangun plot cerita yang terlalu besar untuk tujuan yang ternyata personal. Segala macam filosofi Hanoman, kampanye politik, pejabat korup, warga-warga tertindas, serta hari besar India masuk dan ditayangkan berulang-ulang, seolah ini akan manjadi plot besar dalam film ini. Nyatanya, Monkey Man tidak lain hanya misi balas dendam biasa. Bahkan, karakter yang ia benci dan ingin dihabisi sama sekali tidak terlihat begitu jahat di film ini. Ini membuat semua world building yang telah dibangun dari awal terasa sia-sia, tidak terpakai alias percuma. Jatuhnya hanya sekedar tempelan. Akan lebih bagus jika Monkey Man ini benar-benar meniru John Wick termasuk dari plotnya, fokus di balas dendam pada film pertama, lalu dunianya mulai membesar dengan sendirinya di film-film lanjutannya.

Pengaruh lain dari berlebihannya world building Monkey Man adalah banyaknya plot dan karakter yang "tidak terbayar" hingga akhir cerita. Muncul, tapi tidak punya fungsi signifikan. Mereka hanya menjadi tempelan-tempelan sepanjang film berjalan untuk melengkapi perjalanan Si Kera, setelah itu tidak jelas karakter-karakter itu ke mana. Bahkan, ada satu karakter yang dari awal terlihat dibangun akan menjadi side kick atau pendamping Kid dalam menuntaskan misinya, tapi tenyata hanya berfungsi sampai pertengahan film, lalu sisanya tidak jelas. Padahal, karakter ini sudah dibangun dengan baik dan cukup memorable. Di sisi lain, ada pula gerombolan karakter yang baru muncul di pertengahan, tapi punya impact ke misi utama. Sayangnya, karena tidak dibangun dari awal, malah mereka jadi terlupakan.
Dari segi aksi, bolehlah diacungi jempol. Beberapa adegan sukses bikin meringis dan memalingkan wajah dari layar. Sayang, koreografinya masih terlihat amatir, beberapa figuran tertangkap tampak menunggu giliran untuk maju dan dihantam. Perkelahian di bagian-bagian awal masih lebih menarik. Saat adegan puncak, justru fight-nya jadi membosankan. Selain terasa pengulangan, Kid sebagai hero utama tampak tidak meyakinkan. Bahkan, saat filmnya selesai, judul 'Monkey Man' pun sama sekali tidak cocok disematkan. Tidak ada impact-nya. Segala filosofi Hanoman yang berulang-ulang dijejalkan ke kepala penonton ternyata tidak ada gaungnya. Diganti dengan judul lain pun tidak akan ada masalah. Jika paruh pertama film terasa cepat, paruh kedua sangat lambat, membuat ngantuk, dan ingin film ini cepat-cepat selesai.
Terlepas dari hasilnya, debut Dev Patel ini tidak jelek dan masih bisa dinikmati. Gambaran India kumuhnya sangat realistis walau sebagian besar syutingnya dilakukan di Batam. Tidak yakin akan ada Monkey Man 2, tapi jika Patel ingin bikin film action lagi, harusnya ia akan lebih baik.
