Borderlands: Daftar Film Adaptasi Game Kurang Berhasil Dapat Tambahan Satu Penghuni Baru

by

Borderlands: Daftar Film Adaptasi Game Kurang Berhasil Dapat Tambahan Satu Penghuni Baru
EDITOR'S RATING    

Sesuai tagline-nya: Chaos Loves Company

Di ranah Hollywood, belum banyak aktris sekaliber Cate Blanchett yang memiliki jangkauan akting dan filmografi dari berbagai macam genre. Drama romantis, aksi-fantasi, sejarah, biopik, superhero, dan kini adaptasi video game. Diangkat dari waralaba video game berkategori first-person shooter, versi filmnya sendiri juga diisi jajaran pemain yang cukup punya nama, di antaranya Kevin Hart, Jack Black, Édgar Ramírez, Ariana Greenblatt, hingga Jamie Lee Curtis. Sutradara dan penulisan naskah diserahkan kepada Eli Roth, sineas yang terkenal lewat film-film berrating R alias yang banjir darah, seperti Cabin Fever, Hostel, dan Thanksgiving

Borderlands mengisahkan seorang pemburu hadiah bernama Lilith yang mencari uang dengan mengejar para penjahat. Suatu hari, ia dimintai tolong mencari Tina, putri Atlas, seorang pria yang memiliki kekuasaan besar di dunia Lilith. Meski awalnya enggan, namun karena dibayar dengan harga tinggi, Lilith pun menyanggupi. Pencariannya membawa wanita ini pulang ke planet tempat tinggalnya dulu, Pandora, di mana ia bertemu dengan sebuah robot bernama Claptrap yang mengiringi perjalanannya. Saat bertemu Tina dan kedua temannya, Roland serta Krieg, Lilith baru sadar bahwa ia hanya dijadikan alat agar pasukan pribadi Atlas, Crimson Lance, bisa menangkap Tina dan membawanya kembali. Tidak ada jalan lagin bagi Lilith selain bekerja sama dengan ketiga "kawan barunya" sekaligus mencari keberadaan sebuah tempat penyimpanan berisi rahasia dan kekuatan dari sebuah peradaban besar yang hilang. 

Menyaksikan Borderlands, terutama bagi mereka yang tidak pernah memainkan game-nya (atau bahkan tidak tahu perihal keberadaan game ini), mungkin akan merasa bahwa nuansanya seperti dua campuran film besar. Dunia Pandora yang berpasir, namun juga dipenuhi barang rongsokan terasa seperti Mad Max Fury Road meski tidak segila itu. Sementara, setiap karakter, kostum, dan alat tempur mereka membuat kita teringat dengan Suicide Squad yang penuh warna. Perpaduan ini sebenarnya menarik andaikata diikuti dengan cerita yang bisa dinikmati. Namun, itu tidak terjadi di sini. 


Di antara seluruh karakter, mungkin hanya Lilith yang punya latar belakang jelas. Sisanya hanya digambarkan secara sekilas atau tidak ada sama sekali, seperti Roland dan Krieg. Selain itu, motif kedua orang ini untuk menyelamatkan Tina tidak dijelaskan. Berharap ada celetukan konyol khas Hart yang membuat kita tertawa? Lupakan saja. Tokoh penjahatnya pun tidak terasa mengancam atau terlihat begitu berkuasa. Hanya muncul secara langsung di seperempat film (setelah sebelumnya hanya lewat hologram) dan dikalahkan dengan cara yang sangat biasa membuat film ini jadi terasa antiklimaks. 

Yang patut disayangkan adalah pemakaian Eli Roth di film ini yang terasa seperti di-tone down dari kebiasaannya. Dengan rating yang ditekan sehingga bisa dinikmati oleh anak-anak muda, Borderlands justru jadi terasa kurang bertaji dan terlalu lembut untuk ukuran sebuah film aksi-fantasi seperti ini. Minim darah, padahal penuh kekerasan dan ledakan. Bahkan, meski sudah tahu, kita pasti tidak akan percaya bahwa Roth-lah yang menyutradarai sekaligus menulis naskah film ini. 

Borderlands seharusnya bisa memperkenalkan dunia mereka kepada orang-orang yang awam dengan game-nya dan merangkul para penggemar baru. Namun, yang ada, Daftar Film-Film Kurang Sukses yang Diadaptasi dari Game malah mendapat satu tambahan penghuni baru.