Smile 2: Menebar Senyuman Maut yang Bikin Takut

by Redaksi

Smile 2: Menebar Senyuman Maut yang Bikin Takut
EDITOR'S RATING    

Skala lebih besar, tapi dengan cara yang sama

Sukses dengan Smile yang tayang tahun 2022, Paramount Pictures kembali lagi dengan Smile 2. Jika di film pertama memakai pemain tidak terkenal, kali ini Naomi Scott (Aladdin) yang menjadi jualan utama. Wajar jika Paramount tertarik menyambung film ini ke sekuel karena perolehan film pertamanya memang luar biasa. Dari bujet $17 juta, Smile sanggup meraih $217.4 juta. Pemasukan yang fantastis bukan? 

Smile 2 memberi ketakutan yang lebih mendalam. Membuat penonton benar-benar merasakan kegilaan Skye, sang karakter utama. Menonton Smile 2 seperti melihat mimpi buruk yang diputar di layar raksasa dengan kualitas terbaik. Hal yang ingin dilupakan malah terpampang jelas dan berwarna. Mengambil sisi positif dari Smile yang memiliki jumpscare tidak tertebak, Smile 2 membuatnya menjadi kejutan ngeri yang berkali lipat bikin shock jantung. Para penikmat film pertamanya pasti akan terpuaskan saat menyaksikan sekuel ini di bioskop.

Memakai pemeran yang lebih punya nama, Smile 2 sepertinya ingin lebih banyak orang lagi yang merasakan kengerian senyuman setan maut. Naomi Scott memerankan Skye Riley sosok superstar yang hidupnya berantakan setelah tidak sengaja menyaksikan kenalannya bunuh diri sambil tersenyum. Aktingnya di sini cukup membuat kita ikut merasakan gelisah dan ketakutan sang karakter. Mungkin memang bukan akting kelas Oscar, tapi cukup memberikan impact yang positif. Sayangnya, aura superstar Scott masih terasa kurang sehingga label megabintang pada karakternya terasa kurang meyakinkan. 


Dari segi cerita, walau cakupan dunianya terlihat lebih luas, tapi tetap mengutamakan sisi personal si karakter. Kita akan takjub melihat bagaimana sulitnya si karakter menjembatani antara dunia kerjanya sebagai artis dan sisi pribadinya yang butuh pengertian juga. Namun, secara plot, film kedua ini tidak ada bedanya dengan film yang pertama. Bahkan plotnya membuat film ini seolah hanya menjual jumpscare dengan alur cerita yang tipis dan karakter utama sama sekali tidak diberi kesempatan membela diri untuk bisa selamat dari kutukan senyum tersebut.

Film ini memiliki gaya yang sama dengan Siksa Kubur milik Joko Anwar. Penonton akan dibuat menebak-nebak di mana film ini membelokkan alurnya. Bagi yang sering nonton film-film dengan twist pasti akan dengan mudah menebak. Selain mengikuti alur perjalanan dan kegilaan Skye, tidak banyak yang dieksplor dari sisi pemain pendukung. Semuanya bermain satu dimensi dan kurang berguna, selain hanya untuk melengkapi plot. 

Mengatakan film ini buruk tentu sebuah pernyataan yang salah. Namun, jika dibandingkan dengan film yang pertama, rasa puasnya tidak sebesar dahulu. Penyebab terbesarnya tentu saja pengulangan plot yang tinggal membedakan setting dan pemainnya saja. Walau endingnya seperti mengisyaratkan sesuatu yang lebih besar, tapi jika plotnya sama saja, lama-lama orang akan bosan juga. Jika lanjutannya memang ada, fokus dengan origin dari setannya mungkin akan membawa angin segar lagi pada franchise ini.