The Furious: Dunia Butuh Film Aksi Gila dan The Furious Jawabannya

by Redaksi

The Furious: Dunia Butuh Film Aksi Gila dan The Furious Jawabannya
EDITOR'S RATING    

Kisah perjuangan gigih seorang ayah menolong anaknya yang diculik

Di tahun 2011, film The Raid mengguncang dunia perfilman internasional. Aksi intens dengan pace cepat dan kisah menarik membuat semua praktisi film tertarik dan menyebut The Raid sebagai salah satu film aksi terbaik sepanjang masa. Beberapa cast-nya pun mencuri perhatian dunia, seperti Iko Uwais, Joe Taslim, dan Yayan Ruhian. Mereka pun langsung diajak terlibat proyek-proyek film besar di Hollywood, seperti Fast & Furious, Star Wars, Star Trek, Mortal Kombat, dan masih banyak lagi. Kini, 15 tahun berselang, sebuah film aksi yang mencuri perhatian dunia kembali muncul. Kali ini, bukan dari Indonesia, melainkan Hong Kong dengan melibatkan sineas dan aktor lintas negara. 

Wang Wei adalah pria terampil yang bekerja serabutan sebagai tukang. Ia tinggal di sebuah rumah kecil bersama dengan putrinya yang dalam beberapa hari lagi akan kembali ke Tiongkok untuk bersekolah. Naas, sang putri diculik oleh sindikat perdagangan manusia. Setelah mati-matian mengejar pelakunya, namun gagal, Wang Wei pun melapor ke polisi yang malah tidak ditanggapi. Sadar bahwa percuma meminta bantuan dari aparat hukum, ia pun turun tangan sendiri mencari putrinya dengan kemampuan bela diri yang ia miliki. Dalam perjalanannya, Wei bertemu pria bernama Navin, jurnalis yang sedang mencari keberadaan istrinya yang hilang saat tengah menyelidiki perdagangan manusia. Keduanya pun bekerja sama sekaligus berjuang menyelamatkan putri Wei sebelum terlambat. 

Kenji Tanigaki, sineas di balik The Furious, bisa dibilang masih tergolong baru di dunia penyutradaraan. Filmografinya sendiri baru tiga dengan dua di antaranya Legend of Seven Monks (2006) dan Enter the Fat Dragon (2020). Namun, jika berbicara perjalanannya sebagai action choreographer, tentu tidak perlu diragukan lagi. Sudah malang-melintang sejak 1996, Tanigaki sudah dipercaya memegang banyak proyek di perfilman Hong Kong dan Jepang, beberapa di antaranya empat film Rurouni Kenshin, Raging Fire, hingga Twilight of the Warriors: Walled In

Dengan sederet pengalamannya tersebut, tidak heran jika The Furious sukses menghadirkan parade martial arts yang membuat pencinta aksi bersorak kegirangan dari awal sampai akhir. Uniknya, dengan cast dan crew yang terlibat berasal dari berbagai negara, The Furious menghadirkan berbagai seni bela diri yang terlihat dari cara bertarung setiap karakter. Xie Miao terlihat mengandalkan kungfu sebagai gaya berkelahinya, sementara Joe Taslim yang aslinya atlet judo, memperlihatkan banyak gerakan judo. Khusus untuk Yayan Ruhian, ia diberikan sesuatu yang baru untuk melengkapi aksinya: busur dan panah. Seperti yang sudah ditampilkan di trailer, panah tidak hanya menjadi alat pertarungan jarak jauh, tapi juga bisa menjadi senjata mematikan untuk pertarungan jarak dekat.  


Setelah 15 menit diberikan waktu tenang di awal, praktis, penonton tidak diberikan waktu bernapas barang sedetik pun. Aksi demi aksi disajikan, mulai dari pengejaran Wei saat anaknya diculik, pertarungan di ring UFC bawah tanah, pertarungan dengan salah satu villain, perkelahian secara keroyokan saat menyelamatkan anak-anak yang diculik, hingga puncaknya perkelahian 2-1-2 yang terjadi menjelang film berakhir. Pengalaman Tanigaki sebagai action choreographer selama puluhan tahun jelas berperan penting di sini. Semua perkelahian menghadirkan koreografi yang berbeda, nyaris tidak ada pertarungan yang monoton. Karakter utama digambarkan hebat, tapi villain-nya pun lebih hebat lagi sehingga pertarungan yang disajikan terasa intens, menegangkan, dan seakan tiada akhir. Tipe adegan yang membuat kita gemas dan gregetan karena penjahatnya susah mati.

Deretan cast-nya pun tidak main-main. Ada Xie Miao yang sudah dikenal sejak kecil karena beradu akting dengan Jet Li dalam My Father is a Hero. Lalu, ada Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Kehadiran dua bintang laga Indonesia ini tentu disambut meriah oleh kalangan penikmat film internasional karena keduanya kembali bertemu setelah sekuens pertarungan menegangkan antara Jaka dan Mad Dog di The Raid. Ada pula Brian Le. Bersama saudaranya, Andy Le, ia membuat channel Youtube Martial Club berisi video-video bela diri. Bersama saudaranya, Brian ikut membintangi dan menjadi koreografer di Everything Everywhere All at Once (2022). Karakter villain di The Furious juga bukan tanpa background bela diri. Joey Iwanaga adalah aktor keturunan Jepang-Amerika yang sempat terlibat proyek besar, seperti serial Alice in Borderland Season 3 dan juga Rurouni Kenshin: Final Chapter Part I - The Final (2021). Dia juga membintangi adaptasi anime Blue Lock sebagai Akihito Lemon.

Bagi kalian penyuka film aksi yang sudah lama menantikan masterpiece seperti The Raid, The Furious wajib ditonton. Meski ceritanya tidak menghadirkan sesuatu yang istimewa, tapi Tanigaki berani menyinggung isu berat, seperti perdagangan manusia di area Asia Tenggara dan polisi korup. Tidak hanya itu, pertarungan yang dihadirkan di sini jelas membawa The Furious ke level yang berbeda dan dipuji banyak kalangan.