Tetap asyik ditonton meski memakai formula lama
Saat Sony Pictures mengumumkan pembuatan remake The Karate Kid untuk pertama kalinya, semua orang yang tumbuh besar dengan film originalnya tentu berharap banyak. Namun, dahi orang-orang berkerut karena karakter yang dipilih adalah Jackie Chan, sementara basic-nya adalah kung fu, bukanlah karate. Terlepas dari judulnya yang kurang sesuai, film rilisan 2010 ini berhasil meraih pendapatan fantastis. Dari bujet $40 juta, mereka meraih pendapatan $359,1 juta. Hal ini tentu membuat Sony Pictures yakin bahwa kisah seperti ini memang masih memiliki tempat di hati penonton yang sudah terlalu sering digempur film-film penuh CGI. Selang 15 tahun kemudian, hadirlah sekuelnya Karate Kid: Legends yang kali ini mencoba setia dengan judul karena menghadirkan Ralph Macchio, sang pemeran Karate Kid di film original.
Li Fong pindah ke New York karena ibunya diterima bekerja di rumah sakit lokal. Ini membuatnya harus meninggalkan sekolah kung fu yang sudah ia ikuti cukup lama dan dikepalai oleh Master Han. Di New York, ia berkenalan dengan gadis pemilik toko pizza, Mia, dan ayahnya, Victor. Toko mereka terlilit utang dan satu-satunya cara untuk mencari uang adalah dengan mengikuti pertandingan tinju jalanan. Victor yang tahu bahwa Li pandai kung fu meminta untuk dilatih. Sayangnya, di hari pertandingan, Victor dicurangi lawan sehingga kalah. Sadar bahwa Li memendam rasa bersalah, Master Han pun datang ke New York untuk membantu, tidak lupa mengajak salah satu kenalan dekatnya, seorang jago bela diri legendaris, Daniel LaRusso alias Si Karate Kid.
Dari segi cerita, Legends masih memakai formula yang nyaris sama dengan prekuelnya. Berfokus pada anak muda yang pindah ke negara asing dan mengalami gegar budaya di tempat barunya. Di sana, ia berkenalan dengan salah satu warga lokal, mendapat musuh bebuyutan, dan menyelesaikan semua urusan di atas ring. Sesederhana itu. Namun, film ini seperti me-reverse kisah di film pertama. Bukan anak Amerika yang pindah ke Tiongkok, tapi anak Tiongkok yang pindah ke Amerika. Karakter Li Fong dan Dre Parker pun dibuat jauh berbeda, baik dari segi usia mau pun sifat. Lebih dewasa dan easy going membuat karakter Li Fong terlihat lebih cerah, santai, dan membawa film ini ke arah yang lebih fun dibandingkan Dre yang gloomy, rebel, dan terlihat marah pada dunia. Itu pula yang membuat Legends menjadi tontonan 90 menitan yang ringan, seru, dan memiliki banyak momen yang mengundang tawa para penonton.

Kehadiran Macchio, meski baru muncul di 1/2 akhir film, berhasil membawa orang-orang bernostalgia. Apalagi saat di bagian awal ada potongan klip lama dari The Karate Kid (1984) yang menghadirkan Daniel bersama Sensei Miyagi. Sayangnya, meski masih tetap mengusung judul 'Karate Kid', namun 'karate' yang ditampilkan di sini tidak terlalu banyak. Mungkin, bagi yang paham antara kung fu dan karate akan tahu kapan Li Fong memakai salah satu bela diri ini. Tapi, bagi orang awam, semua terlihat sama.
Dengan durasi 90 menit, Karate Kid: Legends punya cerita yang tidak bertele-tele dan tergolong cepat. Tidak ada momen yang membuat penonton bosan meski tidak ada adegan perkelahian. Tapi, mungkin sebagian akan merasa bahwa plotnya agak sedikit melebar pertengahan, namun itu memang diperlukan untuk membawa arah film ini. Menariknya, nama Dre Parker tidak pernah disinggung sepanjang film. Sepertinya, tim kreator tidak ingin menyertakan film tersebut ke dalam universe mereka meski banyak orang yang berharap Jaden Smith akan muncul sebagai cameo.
Formula yang dipakai Karate Kid: Legends jelas bukan hal baru karena sudah banyak film yang mengangkat from zero to hero. Namun, meski plotnya klise, film ini tetap terasa fun dan seru untuk ditonton serta mengundang nostalgia bagi mereka yang di masa mudanya tumbuh bersama Daniel LaRusso dan Sensei Miyagi.
