The Shadow's Edge: Adu Pintar Polisi dan Pencuri di Tengah Teknologi

by Redaksi

The Shadow's Edge: Adu Pintar Polisi dan Pencuri di Tengah Teknologi
EDITOR'S RATING    

Jackie Chan kini mendapat lawan yang sepadan.

Selain Jet Lee dan Donnie Yen, nama Jackie Chan di dunia Hollywood juga sudah sangat dikenal. Mulai dari komedi aksi Rush Hour hingga Karate Kid, film-film Jackie Chan selalu menghibur. Sayangnya, karakter Jackie Chan di Hollywood terasa agak stereotip. Pria jago kungfu dengan tingkah laku yang komikal. Padahal, range akting Jackie jelas lebih luas dari itu. Setelah Karate Kid: Legends bersama Ralph Macchio, penonton Indonesia kini bisa menyaksikan salah satu film aksi Jackie lainnya, yaitu The Shadow's Edge

Seperti posternya yang terlihat ramai, film ini bercerita tentang satuan polisi yang harus menghadapi sekelompok pencuri yang mengandalkan teknologi tinggi. Mereka berniat mencuri mata uang krypto dari salah satu orang terkaya di Makau. Kalah strategi, kepolisian pun memanggil seorang pensiunan polisi untuk melakukan pelacakan dengan cara lama. Kucing-kucingan dan tipu-menipu antara polisi dan kawanan pencuri ini pun tidak terelakkan. 

Plot cerita The Shadow's Edge sebenarnya mungkin sudah sering kali kita tonton: polisi yang adu pintar dengan penjahat. Namun, film ini membawa premis klise tersebut ke tingkat yang lebih tinggi. Saling menipu lawan, pengintaian yang penuh ketegangan, hingga adegan aksi yang cepat dan intens, semua ini bisa kita tonton di The Shadow's Edge dengan durasi 2 jam 22 menit. Apa waktu putarnya tidak terlalu panjang untuk film aksi? Jelas tidak. Begitu duduk dan menyaksikan plot bergulir, kita akan lupa bahwa film ini nyaris sepanjang Demon Slayer: Infinity Castle.


Bicara soal aksi, jelas tidak perlu diragukan lagi. Jackie Chan yang tidak mendapat porsi banyak untuk bertarung saat di Karate Kid: Legends, kini bisa memuaskan penggemarnya. Tony Leung Ka Fai yang usianya kini menginjak 67 tahun juga bisa membuat penonton gregetan dengan aktingnya sebagai villain utama dan kemampuan bertarung dengan pisaunya. Meski mengedepankan Jackie sebagai tokoh utama, Yang Zi sebagai penulis naskah dan sutradara tetap memberikan screentime untuk masing-masing karakter. Pergerakan kamera yang cepat juga sanggup membuat penonton menahan napas, terutama saat villain The Shadow bertarung dengan belasan orang dan hanya bersenjatakan pisau lipat. 

Selain Jackie Chan dan Tony Leung Ka Fai, film ini juga dibanjiri para pemain muda. Dan, beberapa di antaranya mendapatkan porsi yang cukup besar sehingga punya latar belakang yang jelas. Untuk para penggemar boyband SEVENTEEN, pasti akan senang menyaksikan ini karena salah satu member-nya, Wen Jun Hui atau Jun, ikut ambil bagian sebagai anggota kelompok pencuri. Meski kurang disorot dan dialognya sedikit, namun ia diberi screentime untuk berkelahi dengan Jackie Chan dan pertarungannya cukup menarik. 

Dengan segala aksi menarik dan tipu daya ala Mission Impossible, The Shadow's Edge bisa dibilang salah satu film aksi terbaik tahun ini. Ketegangannya mengingatkan kita pada Twilight of the Warriors: Walled In yang tayang 2024 lalu. Kita memang sesekali butuh film seperti ini, sarat aksi dan minim CGI. Dan rasanya, Hong Kong salah satu negara yang bisa memuaskan kita akan film-film semacam ini.