Penonton awam pun bisa jadi akan tertarik mengenai asal-muasal Han Solo.
Dengan masuknya franchise
Star Wars ke dalam Disney, banyak yang menunggu-nunggu seperti apa kelanjutan
kisah perang antargalaksi ini. Betapa tidak, Disney terkenal sebagai studio
yang tidak hanya melihat sebuah film sebagai produk, tetapi juga merek yang
bisa dikembangkan dari berbagai segi. Setelah kisah para pemberontak dalam
menghancurkan Death Star diangkat dalam Star
Wars: Rogue One, kini Disney menyajikan prekuel dari salah satu pilot
terbaik di galaksi, Solo: A Star Wars
Story. Mengingat Rogue One kemarin
hanya dapat dinikmati oleh para pencinta Star Wars dan kurang dapat diterima
penonton awam, apakah hal yang sama akan terjadi juga pada Solo?
Sesuai dengan judulnya, ini adalah kisah asal-muasal
Han menjadi Han Solo, pilot terhebat di galaksi. Kita akan tahu bagaimana ia
bertemu dengan sahabat baiknya, Chewbacca, mendapatkan Millenium Falcon, dan love-hate relationship-nya dengan Lando.
Semua itu tertuang dalam film berdurasi 2 jam 23 menit ini. Termasuk pula,
kisah cintanya dengan Qi’ra, sebelum akhirnya ia memadu kasih dengan Leia (not spoiler alert).

Han Solo yang diperankan Alden Ehrenreich sekilas akan
mengingatkan penonton dengan Han Solo yang diperankan Harrison Ford. Tengil,
sok tahu, keras kepala. Lando pun tetap dengan gayanya yang flamboyan dan gemar
berjudi. Salah satu hal yang menarik adalah karakter perempuan yang hadir tidak
hanya sebagai pemanis, namun juga kuat, bahkan menyimpan misteri di baliknya.
Hal ini tertuang dalam sosok Qi’ra dan L3 (meski berbentuk robot). Meski tidak
mendapat porsi adegan perkelahian yang cukup banyak, namun akting Emilia Clarke
berhasil memperlihatkan Qi’ra yang tangguh, keras, dan ambisius. Nyaris mirip
dengan karakter wanita-wanita kuat seperti yang selama ini dimainkannya,
seperti Sarah Connor atau Daenerys Targaryen.
Pemilihan Ron Howard sebagai sutradara mungkin pilihan
yang tepat. Meski banyak gimmick-gimmick khas
Star Wars bertebaran, namun sineas ini tahu bahwa penonton Solo bukan hanya pencinta Star Wars saja melainkan seluruh penikmat
film di seluruh dunia, yang belum tentu mengikuti kisah perang antargalaksi
tersebut. Oleh karena itu, Howard cenderung membuatnya seperti film aksi biasa
dengan sempalan petunjuk-petunjuk Star Wars di sini. Kesampingkan Chewie dan
Kekaisaran, maka kita akan menonton film laga mengenai seorang pemuda yang
bercita-cita menjadi pilot terbaik di galaksi. Bagi penonton awam, jelas ini
lebih bisa diterima dibandingkan Rogue
One, namun apakah para pencinta Star Wars akan berpendapat hal yang sama?
Secara keseluruhan, Solo: A Star Wars Story merupakan salah satu kisah origin dalam Star Wars yang menarik dan bisa dinikmati, bahkan oleh penonton awam sekali pun. Mungkin hal ini disebabkan dengan minimnya referensi terhadap kisah utamanya sendiri sehingga dapat berdiri sendiri. Jika memang film ini diniatkan untuk menjadi trilogi, menarik sekali menyaksikan bagaimana perkembangan Han Solo hingga menjadi sosok yang kita kenal dalam dunia Star Wars di kemudian hari dan juga perkembangan sosok Qi’ra.
