The Little Mermaid: Adaptasi Live Action TerLemah Disney Sejauh Ini

by Redaksi

The Little Mermaid: Adaptasi Live Action TerLemah Disney Sejauh  Ini
EDITOR'S RATING    

Jika tidak ada Sebastian dkk., film ini sudah membosankan

Sejak terjadi perubahan konsep untuk Ariel, Si Putri Duyung, bendera merah mulai bermunculan untuk produksi adaptasi live action Disney yang satu ini. Banyak orang yang tidak setuju, tapi Disney tetap maju. Mereka yakin, Halle Bailey sebagai Ariel adalah pilihan yang tepat. Saat akhirnya film The Little Mermaid rilis, waktunya pembuktian tiba. Yah, bisa dibilang pilihan Disney untuk Bailey tidak buruk-buruk amat. Yang hancur, justru kualitas produksi dan pilihan supporting yang membuat film ini terlihat seperti produksi murah. 

Tidak ada yang salah dengan akting Bailey sebagai Ariel. Justru, suaranya yang merdu membuat auranya semakin memancar. Sayangnya, karena ia bukanlah bentuk Ariel yang selama ini kita kenal, menontonnya di layar lebar masih terasa janggal. Bahkan, saat Ursula menyamar menjadi wanita yang menyelamatkan pangeran, Jessica Alexander sebagai pemeran Vanessa tampak lebih cocok menjadi Ariel secara fisik daripada Bailey. Mungkin, kekurangannya hanya tidak bisa bernyanyi sehingga lebih pas menjadi tokoh antagonis. 


Cukup dengan Ariel. Terlepas dari segala kontroversinya, yang paling membuat kecewa dari film ini adalah produksinya yang terlihat seperti film-film awal 2000-an dengan CGI yang sangat kentara dan lokasi yang jelas sekali studio. Laut yang sangat terang saat bernyanyi, efek laut yang minim, serta sempitnya frame yang diambil membuat para makhluk laut itu seperti berada di dalam kolam atau akuarium, bukan lautan lepas. Selain rambut yang melayang-layang, sepertinya tim CGI lupa untuk mengaplikasikan logika lain benda-benda di dalam air. Semua bergerak seperti tanpa adanya hambatan, layaknya orang di permukaan. Ada adegan saat Ariel melempar jam di tangannya ke tumpukan jam-jam rusak lainnya dan benda itu memantul seperti bukan di dalam air, sederhana tapi mengganggu.

Lautan luas yang dianggap sebagai kekuasaan Raja Triton tidak tergambar sama sekali. Bahkan, melihat adegan yang berada di tempat yang sama berulang-ulang membuat scope dunia Ariel ini terasa sempit. Antara kerajaan Raja Triton dan pulau tempat si Pangeran Eric berada seperti berjarak hanya beberapa kilometer saja. Entah Disney tidak yakin dengan kekuatan world building Ariel atau memang ingin lebih menonjolkan sisi musikal yang hasilnya juga biasa saja, intinya produksi ini seperti kurang dana. Padahal, pamor Ariel sebagai salah satu puteri Disney yang ikonik harusnya menjadi salah satu yang cukup tinggi. Atau mungkin Disney sudah cukup yakin dengan pamor Ariel sehingga menganggap bahwa penggantian konsep dan produksi seadanya toh tetap akan ditunggu dan laris.


Karakter pemeran utamanya mungkin lemah, tapi tiga sekawan pengikut Ariel dimainkan dengan sangat baik oleh pengisi suara Daveed Diggs, Jacob Trembley, dan Awkwafina. Bahkan, lagu rap mereka adalah lagu terbaik di film ini. Catchy, mudah diingat, dan iramanya asik. Sebastian sang kepiting memberi nuansa ringan yang menyenangkan di sepanjang film. Interaksinya dengan ikan Flounder dan si burung Scuttle sangat asyik. Banyak momen lucu dan segar dari interaksi ketiganya. Kalau bukan karena mereka, alhasil film ini akan membosankan dan membuat ngantuk. 

Dengan sensor Semua Umur, sudah bisa diprediksi The Little Mermaid jauh dari unsur yang aneh-aneh. Film ini lumayan, tapi kualitasnya munkin tidak sebanding dengan adaptasi live action Disney lainnya.